Halaman

Jumat, 29 Juli 2011

"Masih Belum Halal?"


Penulis
Dag dig dug. Irama jantung terasa semakin beradu. Ya ampun... dia lagi dia lagi. ingin menyapa tapi bentrok dengan hati. "Sabar Dis, sabar, sabar, masih belum halal". bisik hatiku. Ku langkahkan kaki mengambil satu jalur ke kanan. Berhenti pada suara adzan. Lekas ku sampaikan keluhku kepada-Nya. Dan lagi lagi, Astaghfirullah, dia muncul lagi tepat di depanku. "Kuatkan aku ya Rabb...".
Entah mengapa, rasanya semakin aku coba menjauh darinya, semakin terasa dia dekat satu tapak di depanku. Jadi bingung. Ingin rasanya melangkah satu jengkal saja ke depan, tapi takut. Kembali ke belakang satu tapak saja, ku harap tak kan pernah terjadi. Jika aku tetap pada posisiku, dia akan semakin mendekat denganku. Tapi dia belum halal untuk ku. Hm, tapi telah kuputuskan untuk mengambil satu langkah ke samping. Bukan untuk menghindari, tapi untuk sedikit menata hati dan memantapkan niat.
Pesan dari abah guruku masih lekat teringat di pikiranku. "Menjalin satu hubungan dengan yang belum halal lebih baik dihindari, nduk!" Hm, ciut lagi hati ini. Apa salah jika memendam rasa kepada yang belum halal, yang amat nyata di depanku? Apa sih? Apa sih? Niat ini tulus untuk mengenalnya, mengerti tentangnya, tapi kenapa selalu bentrok dengan hati? Niat, mantap, dan kian tertata. Tapi ingat pesan abah guru, nyali, niat, dan kawan-kawannya, semua ciut kembali. Tak ingin melanggar pesan abah, tapi tak kuat jika harus bentrok dengan hati terus menerus tanpa spasi.
Haduh.. Berdoa sudah, niat mantap, untuk sedikit memandang sama dengan yang lainnya. Tapi aneh sangat. Dia mendatangiku. Dag dig dug, aduh... semakin dekat dan dekat. Tangannya melayang di atas tanganku. Senyumnya... Subhanallah... ^_^ Eh, eh, dia menarik aku, raga, dan tubuhku pergi. Ya Allah... abah, maafkan putrimu ini...
Diam, diam, diam, tak sepatah katapun terucap darinya. Apa maksudnya? Jengkel, bingung, malu, seneng, sedih, campur aduk jadi satu di pikiranku. Dalam hati menjerit. "Heh, Bang! Aku ini orang, bukan patung. Menarik seenaknya. Ga' tau apa, malu nih... malu tau... ngomong kenapa Bang..??"
Hingga kata itu terucap dari mulutku. "Heh!!" Ups.. ya ampun kebablasan. Aduh, gimana ini. Bingung. Astaga, dia menoleh, mata itu, ya ampun... belum halah untuk ku terus menatapnya. "Sabar!!" sahutnya. Haduh, aku hanya bisa tertunduk malu dengan muka yang semakin memerah.
Berjalan tanpa tujuan, tanpa spasi, tanpa enter, aneh. Tiba-tiba grekk.. Dia mendudukanku pada kursi panjang sudut sekolah. Dia mengambil posisi 1 meter di depanku. Aduh.. Abah.. (-_-') jangan menatap, jangan, jangan, tapi.. haduh.. "Dengerin abang Ukhti!", pintanya pelan. Aku malah bingung. Menengok ke sana, kemari, tanpa tujuan. Aduh.. grogi melanda. "Ukhti, dengerin abang! Lihat abang!", pintanya kembali. Abah.. maaf.
Lekas kuberanikan menatapnya. "Abang ada salah sama Ukhti?" tanyanya. Aku menggeleng dan tertunduk. "Kenapa akhir-akhir ini Ukhti terasa jauh??" tuturnya pelan. Aduh abah.. Jauh? Apa maksudnya?. Hm.. "Gapapa bang. Aku ga' mau ngelanggar pesan Abah." jawabku. "Apa abang salah jika abang menaruh harapan pada Ukhti?" tanyanya kembali. Aku mengeleng. "Ukhti berharap kita menjadi halal?" tuturnya. Ya ampun pertanyaannya semakin menyudutkanku. Abah.... tolong puterimu ini..
Aku hanya bisa mengangguk. "Jawab Ukhti!" pintanya. "Abah melarang aku untuk menjalin hubungan dengan yang belum halal, bang." jawabku lirih.
"Ukhti takut?" sahutnya. Aku mengangguk. "Akan abang nanti sampai kita benar-benar halal." tuturnya yakin. Dia tersenyum. Abah... ^_^
Reade more >>

Rabu, 27 Juli 2011

sekilas

ketua kelas
comic
Film indie
ekskul tari
poster
whiteboard masa depan
njajal klambi, rasah nyonyor
wes ganteng lho
ngaksis sitek
mobil siji nggo bareng-bareng
action menah ya...
Reade more >>